muhammad nasri Materi Ceramah Di Kurau Sabtu, 03 Juli 2010 SEPUTAR ARTI MAMPU DALAM BERHAJI Definisi Haji Secara terminologi ialah bersengaja kepada sesuatu yang diagungkan. Sedangkan menurut penger... 5

Materi Ceramah Di Kurau

0
SEPUTAR ARTI MAMPU DALAM BERHAJI

Definisi Haji
Secara terminologi ialah bersengaja kepada sesuatu yang diagungkan. Sedangkan menurut pengertian syara` ialah beberapa amal perbutan tertentu yang ditunaikan pada masa tertentu, ditempat tertentu dengan cara tertentu pula.
Kewajiban Haji telah ditetapkan berdasarkan al-Qur`an, hadits dan Ijma`.
Tiga Imam Madzab (Hanafi, Maliki Dan Hambali) sepakat Haji diwajibkan secara segera. Sedangkan Imam Syafi`i, Haji diwajibkan secara nanti-nanti. Dengan 2 syarat:
1. Tidak dikhawatirkan terluputnya Ibadah Haji.
2. Hendaknya bersengaja melakukan haji pada masa telah mampu. Bila tidak bersengaja, maka ia berdosa.

Syarat Wajib Haji
1. Islam (Menurut Hanafi, Syafi`i dan Hambali. Sedangkan Maliki berpendapat, Islam Syarat Sah Haji)
2. Dewasa
3. Berakal sehat
4. Merdeka (Bukan Budak)
5. Mampu

Arti Mampu (Istitha`ah)
Secara umum arti mampu adalah :
1. Sehat jasmani dan rohani tidak dalam keadaan sakit berat, lumpuh, mengalami sakit parah atau menular, gila, stress berat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebaiknya haji dilaksanakan ketika masih muda belia, sehat dan gesit sehingga mudah dalam menjalankan ibadah haji..
2. Memiliki uang yang cukup untuk ongkos naik haji (ONH) pulang pergi serta punya bekal selama menjalankan ibadah haji. Jangan sampai terlunta-lunta di Arab Saudi karena tidak punya uang lagi. Jika punya tanggungan keluarga pun harus tetap diberi nafkah selama berhaji.
3. Keamanan yang cukup selama perjalanan dan melakukan ibadah haji serta keluarga dan harta yang ditinggalkan selama berhaji. Sementara bagi wanita harus didampingi oleh suami atau muhrim laki-laki dewasa yang dapat dipercaya.

Makna Mampu Dalam Menunaikan Haji
Islam dibangun atas lima dasar yaitu syahadat, mendirikan sholat, berzakat, puasa ramadhan dan haji bagi yang mampu. Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara, syahadat (mengesakan Allah), mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan menunaikan haji” (H.R Muslim). Inilah yang kita kenal dengan Rukun Islam.
Menunaikan haji hukumnya wajib bagi yang mampu. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran 97 :
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Seruan atau panggilan untuk berhaji telah didengungkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah SWT, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur`an surat al-Hajj 26-27:
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.”(26) – “Dan berserulah (panggillah) terhadap manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”(27).
Adapun perintah berhaji pertamakali diwajibkan pada tahun ke 9 H. Dengan memperhatikan dalil dan keterangan diatas, tidaklah tepat jika kita mengatakan dan beranggapan bahwa belum pergi haji karena belum ada seruan atau panggilan.

Makna Mampu
Mampu menunaikan Haji merupakan salah satu syarat wajib haji setelah syarat Islam, Baligh, Berakal dan Merdeka (bukan budak). Berikut adalah makna mampu (Isthata`ah) :
1. Sehat jasmani dan rohani tidak dalam keadaan sakit berat, lumpuh, mengalami sakit parah atau menular, gila, stress berat, dan lain sebagainya. Sebaiknya haji dilaksanakan ketika masih muda belia, sehat dan gesit sehingga mudah dalam menjalankan ibadah haji dan dapat memperoleh haji mabrur.
2. Memiliki uang yang cukup untuk ongkos naik haji (ONH) pulang pergi serta punya bekal selama menjalankan ibadah haji. Jangan sampai terlunta-lunta di Arab Saudi karena tidak punya uang lagi. Jika punya tanggungan keluarga pun harus tetap diberi nafkah selama berhaji.
3. Keamanan yang cukup selama perjalanan dan melakukan ibadah haji serta keluarga dan harta yang ditinggalkan selama berhaji. Sementara bagi wanita harus didampingi oleh suami atau muhrim laki-laki dewasa yang dapat dipercaya.

Hadits Nabi Tentang Keutamaan Pergi Haji
Dari Abu Said ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian bepergian (dalam rangka ziarah) selain menuju ke tiga mesjid; mesjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.” (H.R.Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: “Jihad yang paling afdhol (utama) ialah pergi haji.” (H.R.Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitil Haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani.” (H.R.Tirmidzi dan Ahmad)

Allah SWT berfirman dalam Hadits Qudsi : “Seorang hamba Aku sehatkan tubuhnya dan Aku perluas baginya mata pencahariannya dan berlalu lima tahun tidak berhaji kepada rumahKu maka dia akan kehilangan (pemberianKu).” (H.R.Al-Baihaqi)

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke rumah Dluba'ah bintu al-Zubair Ibnu Abdul Mutthalib, lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menunaikan haji, namun aku sakit. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berhajilah." (H.R.Muttafaq Alaihi).

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit dan jadikan suasana yang tenteram jangan menakut-nakuti.” (H.R.Muslim)

Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." (H.R.Ahmad hadits shahih menurut Ibnu Hibban).

Do`a Rasulullah Saw kepada orang yang pergi haji:
"Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti ongkosmu (biaya-biayamu)." (H.R.Ad-Dainuri)

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


Pengantar :
Rasulullah SAW bersabda: “Suatu kaum yang berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah (mesjid/surau), bertilawat Al Qur'an dan mempelajarinya bersama, maka Allah akan menurunkan ketentraman dan menaungi mereka dengan rahmat. Para malaikat mengitari mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat yang ada di sisiNya.” (HR. Muslim)

Beberapa Ayat al-Qur`an Tentang Haji
QS. Ali Imran : 97
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup (mampu) mengadakan perjalanan ke Baitullah1. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

1. Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalanan pun aman.
QS. al-Hajj : 27
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus2 yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

2. Unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.

Beberapa Hadits Tentang Haji
Rasulullah saw. Bersabda: “Islam didirikan atas lima (sendi), yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, beribadah haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian bepergian selain menuju ke tiga mesjid; mesjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa.” (Shahih Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: “Jihad yang paling afdhol (utama) ialah haji yang mabrur.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan (biaya perjalanan) yang dapat menyampaikannya ke Baitil Haram dan tidak menunaikan (ibadah) haji maka tidak mengapa baginya wafat sebagai orang Yahudi atau Nasrani.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda: Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi “Seorang hamba Aku sehatkan tubuhnya dan Aku perluas baginya mata pencahariannya dan berlalu lima tahun tidak berhaji kepada rumahKu maka dia akan kehilangan (pemberianKu).” (HR. Al-Baihaqi : Hadits Hasan)

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anha berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke rumah Dluba'ah bintu al-Zubair Ibnu Abdul Mutthalib, lalu berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menunaikan haji, namun aku sakit. Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berhajilah." Muttafaq Alaihi.

Rasulullah saw. pernah bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit dan jadikan suasana yang tenteram jangan menakut-nakuti.” (Shahih Muslim)

Dari Ibnu al-Zubair Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sekali sholat di masjidku ini lebih utama daripada 1000 kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram, dan sekali sholat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100 kali sholat di masjidku ini." (HR.Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban).

Ucapan Rasulullah kepada orang yang pergi haji: "Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti ongkosmu (biaya-biayamu)." (HR. Ad-Dainuri : Hadits Hasan)

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri

KEMULIAAN MENDIRIKAN SHOLAT
DAN
SIKSAAN BAGI YANG MENINGGALKANNYA

“Apakah yang menyebabkan kamu masuk neraka saqar?mereka menjawab : ”kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat”. (QS. Al-Muddtstsir 42,43).
Sholat lima waktu wajib dikerjakan oleh muslim laki-laki atau perempuan yang telah baliq dan berakal. Tidak ada alasan apapun yang dapat dibenarkan secara syar’i untuk meninggalkan sholat, meski dalam keadaan sakit. Hanya kematian yang menggugurkan kewajiban terhadap sholat fardhu. Sholat adalah tiang agama, pembeda antara muslim dengan kafir, dan di akhirat nanti merupakan ibadah yang pertama kali dihisab. Jika sholatnya sempurna maka diterimalah amal-amal sholeh lainya. Jika sholatnya kurang maka sesungguhnya rugilah ia dan sia-sialah amal-amal lainnya.

KEMULIAAN MENDIRIKAN SHOLAT

Rasululullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa memelihara sholat lima waktu, maka dimuliakan Allah dengan lima perkara:
1. Dihilangkan ia dari kesempitan hidup;
2. Dijauhkan ia dari siksa kubur;
3. Diterima kitab amalan di tangan kanan;
4. Berjalan di atas shiroth (jembatan) seperti kilat;
5. Dimasukkan ke sorga tanpa dihisab.
SIKSAAN MENINGGALKAN SHOLAT LIMA WAKTU
Rasululullah SAW bersabda yang artinya: BARANG SIAPA MERINGAN-RINGANKAN DAN MENINGGALKAN SHOLAT LIMA WAKTU YANG DIWAJIBKAN, MAKA AKAN DIBALAS ALLAH SWT DENGAN LIMA BELAS SIKSAAN, LIMA DI DALAM DUNIA, TIGA KETIKA AKAN MATI, TIGA DIDALAM KUBURNYA, DAN TIGA DIWAKTU BANGKIT DARI KUBURNYA.
SIKSAAN KETIKA HIDUP DI DUNIA:
1. Dihilangkan berkah pada umurnya;
2. Dihilangkan tanda-tanda kesholehan pada mukanya;
3. Tidak dipahalai amalan-amalannya;
4. Tidak dikabulkan do’anya;
5. Tidak memperoleh do’a dari orang-orang sholeh.
SIKSAAN KETIKA SAKARATUL MAUT:
1. Matinya dalam kehinaan (pencabutan rohnya dengan sembrono);
2. Matinya dalam keadaan kelaparan;
3. Matinya dalam keadaan kehausan;
SIKSAAN KETIKA DI DALAM KUBUR:
1. Disempitkan kuburnya sehingga bersalah-salahan tulang iganya;
2. Digelapkan kuburnya;
3. Ia disiksa pula oleh malaikat syaja’il aqro’, dimana dua mata malaikat itu dari api dan segala kuku-kuku dari besi yang menyala, suaranya seperti halilintar, dan ia berkata : “aku diperintah akan memukul engkau, engkau hilangkan sholat shubuh sampai terbit matahari, engkau hilangkan sholat zhuhur sampai waktu ashar, engkau hilangkan sholat ashar sampai waktu maghrib, engkau hilangkan maghrib sampai waktu isya, dan engkau hilangkan sholat isya sampai waktu fajar”. Lalu ia memukul, tiap-tiap sekali pukulan terpendamlah orang itu kedalam bumi tujuh puluh hasta dan disiksa ia sampai hari kiamat..
SIKSAAN KETIKA BERADA DI AKHIRAT:
1. Diberatkan hisabnya;
2. Allah murka padanya;
3. Dimasukkan ke neraka.

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


PERBEDAAN ANTARA MENDIRIKAN
DAN MELAKSANAKAN SHOLAT

Seringkali kita dihadapkan dengan suatu pertanyaan: “Mengapa banyak manusia yang sholat, tetapi mereka juga melakukan perbuatan keji dan kemungkaran, mencuri atau korupsi, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, membunuh dan bahkan berzina serta memperkosa dan banyak perbuatan keji dan mungkar lainnya ?”. Jawabannya adalah : Karena mereka baru pada tahap melaksanakan sholat, mereka juga hanya sebatas melaksanakan kewajiban saja dan belum pada keadaan dimana sholat merupakan kebutuhan mereka sendiri serta karena kecintaannya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Pada hal Allah SWT berfirman : :” Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar ….” ( Al-‘Ankabut [29]:45).

Untuk mewujudkan agar sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, perlu diperhatikan tiga perbedaan mendasar antara mendirikan sholat dengan melaksanakan sholat :

1. Ikhlas dan berupaya melaksanakannya dengan khusyu`.
2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW (syarat dan rukunnya)
3. Sholat adalah kebutuhan (bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban).

BEBERAPA AYAT-AYAT AL-QUR`AN SEPUTAR SHOLAT

- QS. Al-Baqarah :110
“Dirikanlah sholat dan bayarkanlah zakat”
- QS. Al-Baqarah :45
“Dan minta tolonglah kalian kepada Allah dengan sabar dan sholat”
- QS. Al-Kautsar :2
“Maka sholatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah”
- QS. Al-Ankabut :45
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”
- QS.Maryam :59
“Maka dibelakang muncullah satu golongan yang menyia-nyiakan sholat dan mengikuti syahwat, hingga mereka pun terjerumus dalam kesesatan”
- QS.Al-Ma`un :4 – 5
“Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat, yakni orang-orang yang lalai dari melakukan sholatnya”
- QS. Thaaha :132
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya”
- QS. Al-Mudattsir :42 – 43
“Apa yang menyebabkan kamu masuk neraka saqar? mereka menjawab : kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan sholat”

BEBERAPA HADITS NABI SEPUTAR SHOLAT

- “Sholat itu tiang agama, maka barang siapa yang mendirikan sholat, sungguh ia menegakkan agama. Dan barang siapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah meruntuhkan agama” (H.R.Muslim)

- “Amalan yang mula-mula dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat ialah sholat, Jika ia baik, baiklah seluruh amalnya, sebaliknya jika jelek, jeleklah pula semua amalannya”(Hadits Shahih Riwayat Thabrani)

- “Batas di antara seseorang dengan kekafiran itu ialah meninggalkan sholat” (H.R.Muslim)

- “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat bila mereka telah beusia tujuh tahun, dan pukullah jika meninggalkannya bila mereka telah berumur sepuluh tahun” (H.R.Ahmad, Abu Daud dan Hakim yang mengatakan hadits ini shahih atas syarat Muslim).

- Dari Anas r.a. berkata : “Sholat itu difardhukan atas Nabi SAW pada malam ia di Isra` kan sebanyak lima puluh kali, kemudian dikurangi hingga lima kali, lalu ia dipanggil : “Hai Muhammad ! Putusanku tak dapat diobah lagi, dan dengan sholat lima waktu ini, kau tetap mendapat ganjaran lima puluh kali” (H.R.Ahmad, Nasa`i dan Turmudzi yang menyatakan shahihnya)

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


HUKUM BUNUH DIRI
DAN MENYOLATKAN JENAZAHNYA

Kesalahan membunuh diri merupakan satu kesalahan yang terlalu besar. Orang yang membunuh dirinya akan diazab di akhirat kelak sebagaimana dia membunuh dirinya di dunia, seperti dijelaskan oleh Nabi SAW.
Abu Hurairah RA. meriwayatkan dari Nabi SAW :
“Sesiapa yang terjun dari bukit membunuh dirinya, dia akan terjun ke dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesiapa yang meminum racun membunuh diri, racun itu akan berada di dalam gengamannya, dia akan menghirup racun itu di dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan berada dalam gengamannya, dia akan menikamkannya di perutnya di dalam neraka jahannam, kekal di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Thabit bin Dhohak RA, Nabi SAW bersabda:
“Sesiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu benda di dunia, dia akan diazabkan dengan benda tersebut di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Jundub bin Abdillah RA, katanya Nabi SAW bersabda:
“Dahulu dikalangan umat sebelum kamu ada seorang lelaki yang ditimpa musibah, lalu dia tidak bersabar menanggung kesakitannya, lalu dia mengambil pisau dan memotong tangannya sehingga darah tidak berhenti sehinggalah dia mati. Firman Allah SWT: “Tergesa-gesa hambaku kepadaKu (dengan membunuh diri), aku haramkan untuknya syurga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hukum Orang Bunuh Diri Dan Menyolatkan jenazahnya
Perbuatan membunuh diri adalah termasuk di dalam kesalahan dosa-dosa besar, perbuatan membunuh diri ini TIDAK termasuk di dalam perkara yang menyebabkan seseorang keluar daripada Islam (murtad), sebagaimana yang difahami oleh sebagian daripada kita, melainkan bagi orang yang menghalalkan perbuatan tersebut, jika dia menghalalkannya maka ketika itu dia dihukumkan sebagai kafir/murtad.
Kita tidak menghukumkan orang yang bunuh diri sebagai murtad, kerana Nabi S.A.W. tidak melarang para sahabat dari menyolatkan jenazah orang yang membunuh diri. Namun baginda sendiri tidak menyolatkan jenazah orang tersebut sebagai pengajaran bagi orang lain. Maka menjadi sunnah kepada para ulama dan orang yang dipandang mulia, tidak menyolatkan jenazah orang yang mati bunuh diri sebagai mengikut perbuatan Nabi SAW dan sebagai pengajaran kepada orang lain.
Dari Jabir bin Samurah RA. katanya:
“Didatangkan kepada Nabi S.A.W. jenazah seorang lelaki yang membunuh diri dengan anak panah, lalu baginda tidak menyolatkan untuknya.” (HR.Muslim)
Al-Imam an-Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim ketika mensyarahkan hadits ini menyebutkan:
“Hadits ini menjadi dalil bagi ulama yang berpendapat tidak disholatkan jenazah orang yang membunuh diri disebabkan maksiat yang dia lakukan, inilah mazhab ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz dan al-Auza’ie. Manakala al-Hasan, al-Nakha’ie, Qatadah, Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’ie dan kebanyakan ulama berpendapat: Disholatkan ke atas jenazah orang yang membunuh diri. (Jumhur) kebanyakan ulama ini menjawab tentang hadits ini yang baginda tidak menyolatkannya sebagai melarang manusia yang lain dari melakukan perbuatan yang sama (membunuh diri), namun jenazah itu disholatkan oleh para sahabat…”
Adapun mengenai teks hadits yang menyatakan orang yang membunuh diri itu kekal selama-lamanya di dalam neraka, para ulama menyatakan, ia ditujukan kepada orang yang menghalalkan perbuatan membunuh diri tersebut, atau maksudnya boleh difahami dengan memanjangkan tempoh azab ke atasnya di dalam neraka. Wallahu a`lam.

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


MENELADANI SIKAP RASULULLAH DALAM MENGELOLA WAKTU AGAR BERMANFAAT
DAN DALAM MENJAGA KESEHATAN AGAR STAMINA TETAP PRIMA

Allah SWT bersumpah dalam QS.Al-`Ashr : “Demi waktu (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan saling nasehat-menasehati dengan kebenaran dan saling nasekat-menasehati dengan kesabaran (3)”.

Dikisahkan oleh Al-Hasan : aku bertanya kepada ayahku (Ali Bin Abi Thalib), bagaimana cara Rasulullah SAW dalam membagi waktunya, ayahku menjawab: adalah beliau membagi waktunya itu menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt, satu bagian untuk keluarga beliau dan satu bagian untuk beliau sendiri. yakni keperluan dirinya dan keperluan manusia (ummat). Beliau lebih mementingkan bagian ini untuk kepentingan manusia secara umum maupun khusus dan semua kepentingan mereka tidak ada sedikitpun yang terabaikan. (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda : “Pergunakanlah waktu yang lima, sebelum datang yang lima. Pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang kematianmu (ajal). Waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu senggangmu sebelum datang sibukmu, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, dan waktu kayamu sebelum datang miskinmu.” (HR.Baihaqi dari Ibnu Abbas ra)

Rasulullah SAW bersabda : “Dua kenikmatan yang kebanyakan orang tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR.Bukhari dari Ibnu Abbas ra)

Untuk Allah SWT
Dalam kehidupan ini, kita sering kali menjumpai orang-orang yang dalam memanfaatkan dan menggunakan waktu secara tidak adil, tidak pandai membagi waktunya seperti yang dicontohkan Rasulullah, mereka enggan untuk beribadah. Bermacam-macam dalih yang mereka kemukakan atas pembangkangan melaksanakan perintah Allah SWT.
- Seorang yang kaya raya, biasanya beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena seluruh waktunya habis digunakan untuk mengurusi kekayaannya. Mungkin ia lupa, bahwa dirinya sebenarnya tidaklah lebih kaya dari Nabi Sulaiman as. yang justru semakin bertaqwa dengan bertambahnya kekayaan beliau
- Seorang karyawan beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin karyawan inipun lupa, bahwa dirinya tidaklah sibuk dibandingkan dengan Nabi Muhammad SAW, yang disamping sebagai kepala negara, panglima perang, beliau juga seorang pendidik umat.
- Seorang hamba sahaya/pembantu beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuk melayani majikannya. Tidakkah ia lupa, bahwa dirinya tidaklah lebih sibuk dan sengsara dibandingkan dengan Nabi Yusuf as.?
- Seorang yang sakit beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan tenaga untuk beribadah karena derita sakitnya. Cobalah ia ingat, derita penyakitnya itu belumlah seberapa dibandingkan dengan penderitaan yang dirasakan oleh Nabi Ayub as.
- Seorang fakir miskin beralasan bahwa ia tidak punya waktu untuk beribadah karena kemiskinannya. Apakah ia lupa, bahwa ia tidaklah lebih miskin dari Nabi Isa as. yang terpaksa harus memakan dedaunan dan minum air hujan?
- Seorang yang tidak berpendidikan beralasan bahwa ia tidak punya waktu dan mampu untuk beribadah karena ilmunya yang rendah. Apakah ia lupa, bahwa Nabi Muhammad SAW itu, tidak bisa membaca dan menulis?

Untuk Keluarga
Kita maklumi bawa Rasulullah memiliki isteri lebih dari satu. Walau demikian tidak pernah diantara para isteri-isteri beliau yang merasa perlakuan Rasulullah kepada mereka dalam melayani keluarga mendapat perlakuan yang tidak adil. Jadi pantaslah Rasulullah SAW bersabda : “Rumahku adalah syurgaku” (HR.Muslim)


Untuk Diri dan Ummat (masyarakat)
Hampir seluruh waktu hidup Rasulullah dimanfaatkannya untuk melayani umat (masyarakat), sampai-sampai tidak jarang ia mengorbankan waktunya pribadi. Sehingga tidak ada sedikitpun kepentingan umat (masyarakat) yang terabaikan.

Kiat-kiat Dalam Menjaga Kesehatan Agar Stamina Tetap Prima Menurut Al-Qur`an Dan Sunnah
Sejarah mencatat, bahwa selama hidup Rasulullah SAW sangat jarang sekali beliau jatuh sakit. Pernah beliau sakit (demam) ketika kembali dari gua hira` dan sakit pada minggu-minggu terakhir kepergian beliau menghadap Allah SWT. Kepada para sahabat beliau pernah menyampaikan bahwa penyakit itu seringkali berpunca dari perut (makan).

Berikut secara singkat kiat-kiat dalam menjaga kesehatan menurut Al-Qur`an dan Sunnah :
1. Menjaga pola makan, yaitu makan dan minum yang halal, baik dan bergizi serta tidak berlebih-lebihan.(QS.Al-Baqarah : 168 dan 172, QS.An-Nahl : 114)
Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada sesuatu yang harus diisi oleh manusia yang lebih jahat daripada apa yang memenuhi rongga perutnya. Sudah cukup kiranya bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk mnguatkan badannya. Jika perlu lebih banyak lagi maka hendaklah perut diisi sepertiganya dari makanan, sepertiganya lagi dengan air dan yang sepertiganya yang lain untuk udara bernafas.” (HR.Tirmidzi)

2. Rajin berolah raga. Rasulullah SAW bersabda : “Ajarkanlah anakmu berkuda dan memanah”.(HR.Bukhari)
3. Selalu bersyukur atas setiap pemberian dari Allah SWT. (QS.Ibrahim : 7)

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


KISAH SA`LABAH (Sebuah Renungan)

Siang itu Rasulullah sedang sholat berjamaah bersama para sahabat beliau, Diantara sederetan sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, nampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dengan berpakaian lusuh, Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasulullah yang tekun beribadah. Setelah Rasulullah menyelesaikan sholat, sahabat berpakian lusuh itu segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu, Rasulullah menegurnya, “ Tsa’labah!,mengapa engkau tergesa-gesa pulang. Tidakkah engakau berdoa terlebih dahulu. Bukanlah tergesa-gesa keluar dari mesjid adalah kebiasaan orang-orang munafik..”
Tsa`labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah, tetapi apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah. “ Wahai Rasullah, kami hanya memiliki sepasang pakaian untuk sholat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakan sholat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini, Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan sholat secara bergantian. Kami sangat miskin, untuk itu, Wahai Rasulullah. Jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Alloh menghilangkan semua kemiskinan kami ini dan memberi rezeki yang banyak.
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa`labah, lalu beliau berkata,” Tsa`labah sahabatku, engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit itu lebih baik dari pada engkau bergelimangan harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur. Nasehat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa`labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah dia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan, Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rosululloh, karena Doa seorang utusan Alloh pasti didengar Alloh, itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa’labah, hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rosulullloh, dan memohon agar beliau mau mendoakannya agar menjadi orang kaya. Rosululloh kembali menasehati, “ Wahai Tsa’Labah. Demi Dzat yg diriku berada ditanganNya, seandainya aku memohon kepada Alloh agar Gunung Uhud menjadi emas, Alloh pasti mengabulkannya, tetapi apa yang terjadi jika gunung uhud benar-benar menjadi emas, masdjid-masdjid akan sepi!. Semua orang akan sibuk memupuk kekayaan dari gunung itu, aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya engkau akan lupa beribadah kepada Alloh.
Tsa`labah terdiam mendengar nasehat Rosululloh namun dalam hatinya berkecamuk. “Aku mengerti Rosulullloh tidak mau mendo’akan karena beliau sayang kepadaku, beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya aku akan menjadi golongan orang-orang yang kufur, tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang aku miliki aku akan membela agama ini dengan hartaku. Akhirnya Tsa’labah pulang, ia merasa malu apabila terus memaksa Rosululloh agar mau mendo’akannya, namun keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hatinya untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan yang kian menghimpitnya, Ditemuinya Rosulullloh, Ia memohon untuk yang ketiga kalinya agar Rosulullloh mau mendo’akannya. Kali ini Rosululloh tidak bisa menolak keinginan Tsa’Labah, beliau menengadahkan tangan kelangit. Ya…Allah…limpahkanlah rejekiMu kepada Tsa’Labah”. Kemudian Rosululloh memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa’Labah, ”Peliharalah kambing ini baik-baik….pesan Rasulullloh. Tsa’Labah pulang membawa kambing pemberian Rasulullloh dengan hati yang berbunga-bunga” Dengan modal kambing serta Do’a Rasululloh aku yakin, aku akan menjadi orang yang kaya raya.
Hari-berganti hari, bulan berganti bulan Tsa’Labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang yang kaya dan terpandang, Kambingnya berjumlah ribuan, disetiap lembah dan bukit terdapat kambingnya Tsa’Labah. Pagi itu Tsa’Labah berjalan-jalan meninjau kandang-kandang kambing yang sudah tidak sesuai dengan jumlah kambing yang terus berkembang biak. “Hmmm. Aku harus pindah dari sini mencari lahan yang lebih luas untuk menampung kambing-kambingku. Akhirnya Tsa’Labah menemui lahan yang luas dipiggir Madinah. Disana ia membangun kandang-kandang baru yang lebih besar, Namun demikian perkembangan kambing-kambing Tsa’Labah bagaikan air bah yang sulit di bendung, kadang-kadang yang baru dibangun itu sudah penuh sesak oleh ribuan kambing, Dengan demikian Tsa’Labah setiap hari disibukkan terus dengan harta kekayaannnya, Ia yang dulu setiap Sholat lima waktu selalu berjamaah di masjid sekarang datang kemasjid hanya pada waktu sholat dhuhur dan ashar saja.
Kini kandang kambing yang baru dibangun Tsa’Labah di pinggir Madinah sudah tidak lagi memenuhi syarat, maka ia memutuskan untuk mencari area yang lebih luas lagi, tsa’Labah sudah tidak memikirkan lagi bagai mana ibadahnya bila jauh dari Madinah. Kepalanya sudah dipenuhi dengan hubbud dunya (cinta dunia), sehingga ia datang kemasjid hanya satu kali dalam satu minggu pada sholat Jum’at. Dengan demikian derasnya harta yang mengalir dirumah tsa’labah kini ia lebih senang tinggal dirumah dari pada jauh-jauh datang kemesjid, bahkan sholat jum’at pun ia sudah tak datang lagi ke masjid. Sampai Rosulullloh bertanya: ” Wahai sahabatku. sudah sekian lama Tsa’Labah tidak kelihatan di masjid…taukah kalian kemana dan bagaimana keadaannya sekarang?”. “Wahai Rosulullloh. Tsa’Labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di Madinah maupun di luar Madinah telah penuh sesak dengan kambing-kambingnya Tsa’Labah.”, “ Benarkah.?. mengapa ia tidak pernah menyerahkan Shodaqahnya sedikitpun?”.
Setelah Alloh menurunkan ayat tentang kewajiban Zakat. Rosulullloh mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat, seluruh umat islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah Nisab zakat didatangi, tak terkecuali Ts’Labah pun menjadi giliran. Kedua utusan Rosulullloh membacakan ayat zakat dihadapan Tsa’Labah. Kemudian setelah dihitung dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa’Labah yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka Tsa’Labah mukanya berubah merah, ia berang. “Apa-apaan ini. Kalian mengatakan ini zakat tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti!. Pajak!. Sejak kapan Rosulullloh menarik upeti Hah.!? Aku bisa rugi” ucap Tsa’Labah. “Kalian pulang saja aku tidak mau menyerahkan hartaku ..!”
Kedua utusan Rosulullloh kembali menghadap Rosulullloh dan menceritakan semua perbuatan Tsa’Labah, beliau bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin namun setelah kaya ia telah terpengaruh dengan harta kekayaannya. “Sunggu celaka Tsa’Labah.. Celakalah ia..” Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat At-Taubah tentang ciri-ciri orang MUNAFIK. Ayat ini segera menyebar keseluruh muslimin di Madinah sehingga ada salah seorang sahabat Tsa’Labah yang datang memberi tahunya. Celakalah engkau Tsa’Labah, Allah telah menurunkan ayat karena tingkah perbuatanmu. Tsa’labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rosulullloh dengan membawa zakat dari seluruh hartanya, Namun Rosulullloh tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, Sebab kedurhakaanmu Alloh melarangku untuk menerima zakatmu.
Rosulullloh mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan diatas kepala Tsa’Labah, “inilah perumpamaan amalanmu selama ini. sia- sia belaka. Aku telah perintahkan agar engkau menyerahkan zakat tetapi engkau menolak, celakalah engkau Tsa’ Labah”. Tsa’Labah kembali kerumahnya, dengan penyesalan yang tanpa batas dan tiada arti. Sampai suatu hari terdengar kabar Rosulullloh telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima oleh Rosulullloh hingga beliau wafat. Tsa’Labah mencoba mendatangi Khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rosululloh, ia datang membawa zakat, Abu Bakar hanya berkata “Rasulolloh saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku dapat menerima zakatmu.!”
Demikian pula dizaman kekholifahaan Umar bin Khatab, Tsa’labah mencoba menyerahkan zakat, Umar pun tidak mau menerima sebagai mana Rosulullloh dan Abu bakar tidak mau menerima zakatnya, Bahkan sampai kholifah Usman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa’labah karena Rosulullloh, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.
Demikianlah kehidupan yang “hina” dan penuh dengan kemurkaan Allah telah menimpa seorang sahabat Rosulullloh yang telah tenggelam di dalam gelimang harta hingga menyeretnya ke lembah kemunafikan, Ia telah melalaikan kewajibannya. Ia telah mengingkari janji-janjinya, Ia telah melecehkan kemuliaan Allah dan Rosulnya sehingga membuahkan penderitaan yang kekal abadi didalam neraka. Na`uzubillahi min dzalik..
Penting
Bagaimana caranya agar kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai dalam sholat ? dan bagaimana agar sholat kita mampu melindungi kita dari melakukan perbuatan-perbuatan keji dan dimurkai Allah SWT ?

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menjalankan sholat, antara lain :
1. Memperhatikan syarat dan rukun sholat
Rosulullah bersabda :“Sholatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku sholat”
2. Ikhlas dan Khusyu’.
3. Memahami makna dan arti dari bacaan sholat.
Rosulullah bersabda dalam hadist riwayat Muslim :
“Kamu menyembah kepada Allah seakan kamu melihatnya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwasanya Allah Maha Melihat ”

Disusun Oleh H.Muhammad Nasri


Korupsi Berupa Uang, Material Dan Waktu Menurut Islam
Serta Orang Yang Memperoleh Rezekinya Dengan Cara Tidak Halal

Allah SWT berfirman : “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil.”(al-Baqarah 188)

Rasulullah SAW bersabda : "Penggelapan (korupsi berupa harta umat dan Negara) adalah perkara besar dan berakibat besar. Maka, nanti di hari kiamat, jangan sampai saya melihat kalian datang sambil memikul unta yang melenguh-lenguh dan berkata, 'Tolong saya, wahai Rasulullah!' Saya jawab, 'Saya tidak bisa menolongmu sedikit pun". (Shahih Muslim).

Hal senada disampaikan Rasul terhadap mereka yang memikul kuda, kambing, kain, atau emas dan perak yang pernah digelapkan di dunia. (Shahih Muslim).

Nabi SAW juga bersabda,"Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Sementara itu, Tsauban bin Yuhdad, mantan budak yang dimerdekakan Nabi, menyatakan bahwa : "Allah SWT melaknat penyuap, yang disuap dan perantara dari keduanya." (HR Ahmad, Thabrani, Al Bazzar dan Al Hakim).

Juga semua pelaku penyuapan, baik yang mengatur dan merencanakan, mengusulkan, memfasilitasi, melindungi, memberi langsung; penerima langsung maupun lewat perantara; pelaku kolusi; pemberi hadiah kepada penguasa agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya; makelar korupsi dan kolusi, serta segala tindakan yang sejenis dengannya.Sudah tak ditolong di akhirat, mereka pun dilaknat Allah dan Rasulullah SAW.

Padahal, satu-satunya manusia yang berani menghadap Allah di hari kiamat, dan mengajukan syafaat agar manusia terhindar dari neraka adalah Nabi Muhammad SAW. Namun, terhadap koruptor, beliau menolak. Adapun laknat Allah adalah tiket masuk neraka. Laknat-Nya adalah perkara besar karena itu berarti menyerupakan laksana iblis dan setan (QS an-Nisa`117-118 ). “…mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.(117) yang dilaknati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya akan benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan untuk saya”.(118).

Mungkin saja karena ada iman seberat dzarrah, maka para koruptor dan pelaku penyuapan akhirnya dibebaskan dari neraka. Namun, andaikan seorang koruptor mendapat azab teringan dan itu hanya sesaat, maka sabda Rasul : ''Azab teringan di neraka adalah orang yang memakai sepatu di mana talinya dari api neraka, maka dengan itu mendidihlah otak di kepalanya.'' (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).

Ketika korupsi, suap menyuap, dan sejenisnya merajalela, maka itu tanda kehancuran. Inilah bukti amanah tidak dipegang lagi, serta urusan pemerintahan dan umat diserahkan kepada yang bukan ahlinya. Jika itu terjadi, ''Maka tunggulah kehancurannya.'' (HR Bukhari).

....,"Wahai Saad bersihkanlah isi perutmu (dari yang haram), niscaya engkau menjadi orang yang selalu dikabulkan do'anya, demi jiwa Muhammad yang berada digenggaman­Nya, sesungguhnya seseorang yang menelan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka Allah SWT tidak akan menerima ibadahnya selama empat puluh hari. Dan hamba mana saja yang daging (tubuhnya) tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya. (Dikutip oleh Al Hafidz Ibnu Rajab Rohimahulloh dalam Kitab Jami'ul Ulama Wal Hikam yang diriwayatkan oleh Thabrani.

Karena hanya dosa syirik yang tak terampuni “Sesungguhnya Allah tidak akn mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”( QS an-Nisa`48 ). Oleh karena itu, bagi pelaku korupsi tidak ada jalan lain untuk selamat dari azab dan laknat Allah selain dengan bertobat, sebelum maut datang menghampiri, dengan cara : menyesal, bertekad untuk tidak mengulangi lagi dan kembalikan harta umat dan Negara yang diambil/dikorupsi, serta perbaiki diri dengan memperbanyak mengerjakan amal-amal baik di sisa usia.

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri


HUKUM RIBA, ANEKA MACAM RIBA
DAN PEMANFAATAN RIBA MENURUT ISLAM

Definisi Riba
Menurut bahasa, Riba berarti bertambah, tumbuh, tinggi dan naik. Menurut istilah Fuqaha` adalah tambahan terhadap salah satu barang yang dipertukarkan yang masih sejenis dengan tanpa adanya ganti (bayaran) atas tambahan tersebut.

Macam-macam Riba
Riba terbagi dua:
1. Riba Nasi`ah (hutang); yaitu tambahan yang ditetapkan oleh orang yang memberikan hutang kepada orang yang dihutangi dengan alasan penundaan waktu pembayaran. Hal ini diharamkan menurut Al-Qur`an, As-Sunnad dan Ijma` Riba ini adalah riba Abbas bin Abdul Muthalib, yang telah diharamkan oleh Rasulullah SAW dalam haji wada`. Bentuk riba semacam inilah yang sekarang berkembang dan berlaku dalam aturan bank-bank di era sekarang ini.
2. Riba Fadhl (jual-beli); yaitu menjual uang dengan uang, atau makanan dengan makanan dengan adanya tambahan pada salah satu barang itu. Hal ini diharamkan sesuai dengan As-Sunnah dan Ijma`. Karena ini akan membawa kepada jenis riba nasi`ah. Bentuk riba ini dilakukan dengan cara memberikan tambahan pada salah satu jenis saat dilakukan jual beli. Seperti menjual seribu rupiah dengan dua ribu rupiah secara tunai, atau menjual sekilo beras dengan dua kilo beras dan sebagainya.

Hukum Riba
Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan termasuk dosa besar, dengan dasar Al-Qur`an, As-Sunnah dan Ijma` ulama.

Dalil dari Al-Qur`an, diantaranya adalah:
“Allah menghallkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al-Baqarah: 275)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”.(Al-Baqarah: 278-279)

Dalil dari As-Sunnah, diantaranya adalah:
“Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan, diantaranya memakan riba” (HR.Mutafaqqun `alaih dari Abu Hurairah ra)
“Semoga Allah melaknat pemakan riba” (HR.Bukhari dari Abu Juhaifah ra)
“…yang dilaknat adalah pemakan riba, pemberi riba, penulis dan dua saksinya, mereka itu sama”. (HR.Muslim dari Jabir ra)

Para Ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaannya seperti digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai berikut: “Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat dari pada riba.

Pemanfaatan Riba Menurut Islam
Sesungguhnya dalam Islam, menurut Imam As-Sarakhsi berkata: “Allah menyebutkan bahwa orang yang memakan riba, memanfaatkan riba akan memperoleh lima hukuman, seperti yang tercantum dalam ayat 275-279 surat Al-Baqarah, yaitu:
1. Kemasukan setan
2. Kehancuran
3. Peperangan dan permusuhan (dari Allah dan Rasul-Nya)
4. Kekufuran
5. Kekal di dalam api neraka

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menikahi ibunya sendiri.” (HR.Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitabnya Mulughul Maram).

Dalam Hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda:
“Satu dirham dari hasil riba yang dimakan oleh seseorng dan ia mengetahui (bahwa yang dimakan itu berasal dari riba), maka hal itu lebih besar dosanya daripada 36 kali berzina.” (Hadits Shahih Riwayat Ahmad bin Hambal dalam Kitbnya al-Musnad)

Catatan
***Mengenai Hukum Bunga Bank Konvensional: MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa Bunga Bank termasuk riba dan riba hukumnya HARAM (lihat KEPUTUSAN FATWA MUI No. 1 th 2004 tentang Bunga Bank).

Disusun Oleh : H.Muhammad Nasri

Tidak ada komentar:


Copyright © Seni, Ilmu, Iman dan Amal

Sponsored By: Free For DownloadDesigned By: Habib Blog